Kamis, 15 April 2021

Jenis - Jenis Audit

 

Macam-Macam Jenis Audit

Ditinjau Dari Aspek Luas Pemeriksaan

Melihat pada jenis luas pemeriksaannya audit dibagi menjadi dua, yakni pemeriksaan umum (genderal audit) dan pemeriksaan khusus (sepecial audit).

1. Pemeriksaan Umum atau Genderal Audit

Genderal audit merupakan pemeriksaan yang umum dilakukan atas laporan keuangan perusahaan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP).

Pemeriksaan KAP yang bersifat independent bertujuan untuk memberikan penilaian sekaligus memberikan opini mengenai kewajaran dari laporan keuangan dari suatu perusahaan.

2. Pemeriksaan Khusus atau Special Audit

Merupakan suatu pemeriksaan yang terbatas hanya pada permintaan audit yang dilakukan oleh kantor akuntansi publik atau KAP, dengan menyertakan opini.

Ditinjau Dari Aspek Bidang Pemeriksaan

Melihat dari bidang aspek pemeriksaannya,  audit dikelompokkan kedalam tujuh bagian. Ketujuh jenis audit berdasarkan aspek bidang pemeriksaannya itu antara lain adalah audit laporan keuangan, audit operasional, audit ketaatan, audit sistem informasi, audit forensik, audit investigasi, dan audit lingkungan.

Berikut ini adalah uraian dari ke tujuh jenis audit berdasarkan aspek bidang pemeriksaaannya:

1. Audit Laporan Keuangan  atau Financial Statment Audit

Jenis laporan audit keuangan ini berkaitan dengan mengumpulkan serta mengevaluasi bukti-bukti transaksi tentang laporan suatu entitas dengan tujuan memberikan opini atau pendapat tentang laporan tersebut apakah sudah sesuai degan kriteria yang ditetapkan dalam prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2. Audit Operasional atau Management Audit

Audit operasinal merupakan pemeriksaan terhadap kegiatan operasional suatu perusahaan.

Hal-hal yang menjadi perhatian dalam audit operasional ini antara lain dari segi kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional manajemen yang telah ditetapkan, dengan tujuan untuk mengetahui apakah kegiatan operasional yang berjalan sudah efektif dan efisien.

3. Audit Ketaatan atau Compliance Audit

Audit ketaatan adalah jenis audit yang memiliki tujuan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan serta kebijakan-kebijakan yang ada.

Baik itu peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak intern maupun pihak ekstern entitas/ pemegang saham perusahaan tersebut.

Tujuan atau fungsi lain dari audit ketaatan ini adalah untuk melihat sejauh mana perusahaan mentaati peraturan yang ada dalam perusahaan, mentaati peraturan pemerintah serta kewajiban hukum yang harus dipatuhi oleh entitas yang di audit.

4. Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi merupakan kegiatan pemeriksaan yang dikerjakan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), terhadap perusahaan yang sudah melakukan proses data akuntansi dengan menggunakan system Elektronik Data Processing atau EDP.

Untuk hal ini, seorang auditor harus memperhatikan beberapahal seperti berikut ini :

  • Perlengkapan keamanan untuk melindungi perlengkapan komputer baik program, komunikasi, atau data dari akses yang tidak sah, modifikasi dan bahkan penghancuran.
  • Pengembangan program yang dilakukan atas dasar otorisasi khusus dan umum dari pihak manajemen perusahaan.
  • Proses transaksi, file, laporan dan catatan komputer dengan akurat dan lengkap.
  • Data-data file laporan yang tersimpan di dalam komputer sangat dijaga akan kerahasiaannya.

5. Audit Forensik

Tujuan dari dilakukannya audit forensik adalah sebagai sebuah upaya untuk menghindari atau tindakan pencegahan dari terjadinya sebuah kecurangan (fraud).

Hal-hal yang biasanya dilakukan audit forensik seperti misalnya investigasi kriminal, indikasi kecurangan dalam bisnis atau karyawan, untuk mengetahui kerugian dari suatu bisnis.

6. Audit Investigasi

Audit investigasi adalah serangkaian kegiatan yang meliputi mengenali, mengidentifikasi, serta menguji fakta-fakta dan informasi yang ada guna mengungkap kejadian yang sebenarnya dalam rangka pembuktian demi mendukung proses hukum atau sebuah dugaan adanya penyimpangan yang berpotensi merugikan keuangan suatu etintas perusahaan/organisasi/negara maupun daerah.

7. Audit Lingkungan

Menurut Kep. Men. LH 42/1994 yang dimaksud dengan audit lingkungan adalah sebuah proses manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik, tercatat atau terdokumentasi, serta obyektif tentang bagaimana suatu kinerja manajemen organisasi dalam tujuannya untuk memfasilitasi kendali manajemen terhadap upaya pengendalian dampak lingkungan serta pemanfaatan kebijakan usaha terhadap perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan.

Ditinjau Dari Aspek Kelompok Pelaksana Audit/Auditor

Dilihat dari kelompok pelaksanaannya audit dibagi menjadi 4, yakni auditor internal, auditor ekstern, auditor pajak, dan auditor pemerintah.

Dan berikut ini adalah penjelasan dari ke empat kelompok pelaksana audit tersebut di atas;

1. Auditor Internal

Seorang auditor internal memiliki tugas dalam membantu Top Managemen  atau manajemen puncak dalam melakukan pengawasan asset, serta mengawasi kegiatan operasional perusahaan dan pengendalian internal perusahaan sehari-hari.

Auditor internal bekerja untuk perusahaan yang mereka audit, atau bisa dikatakan bahwa auditor internal memiliki tugas mengaudit manajemen perusahaan termasuk melakukan compliance audit.

2. Auditor Ekstern

Auditor ekstern bekerja untuk lembaga atau kantor akuntan publik (pihak ke 3 bagi perusahaan) yang mana status dari auditor ekstern tidak ada dalam perusahaan atau bukan bagian dari perusahaan yang sedang mereka audit.

Auditor ekstern bekerja secara independent dan objektif dan umumnya auditor ekstern menghasilkan laporan financial audit.

3. Auditor Pajak

Mempunyai tugas melakukan ketaatan wajib pajak yang di audit menurut undang-undang perpajakan yang berlaku. Di Indonesia hal ini dilaksanakan oleh DJP (Direktorak Jendaral Pajak) yang berada dibawah naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia.

4. Auditor Pemerintah

Adalah sebuah lembaga yang memiliki tugas menilai kewajaran dari informasi laporan keuangan instansi pemerintah atas pelaksanaan program dan penggunaan asset milik pemerintah.

Audit yang dilakukan dalam lingkungan pemerintah umumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan atau BPKP.

 

Selasa, 10 Desember 2019

Tugas Pemrograman Berorientasi Objek


NAMA  : HAIKAL AKBAR
NPM      : 12117629
KELAS    : 3KA32



Soal!

Buatlah UML yang menggambarkan bentuk pewarisan dalam beberapa objek !

Jawaban :

-) Menggunakan Class Diagram


Jumat, 25 Oktober 2019

SISTEM PAKAR

SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT CACAR AIR PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

HAIKAL AKBAR

SISTEM INFORMASI-FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI-UNIVERSITAS GUNADARMA


haikalakbar015.blogspot.com






SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT CACAR AIR PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Abstrak
Penyakit cacar air adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja, terutama yang belum diimunisasi. Data Kabupaten Kesehatan Klaten, jumlah penderita cacar air pada September 2011 adalah 986 orang. Berdasarkan data dari Australia menunjukkan 83% anak terinfeksi cacar air berusia 10 - 14 tahun. Di Australia, ada sekitar 240.000 kasus, 1.500 rawat inap dan sekitar 7 kematian per tahun akibat cacar air. Metode yang digunakan adalah metode Certainty Factor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat sistem pakar perangkat lunak yang diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendiagnosis perangkat lunak sistem pakar penyakit cacar air termasuk analisis kebutuhan pengguna, analisis kebutuhan dan pengetahuan rekayasa desain sistem yang dalam rekayasa perangkat lunak ini, data yang dikumpulkan diwakili sebagai basis pengetahuan, keputusan, basis aturan dan desain mesin inferensi, desain sistem lebih lanjut, proses pembuatan desain terdiri dari pemodelan dan diagram konteks DFD, pemodelan data yang terdiri dari merancang ERD, dan Table Mapping mengelilingi tabel selanjutnya proses pengembangan implementasi menggunakan Visual Basic 6.0. Hasil berupa program aplikasi sistem pakar yang mampu mendiagnosis penyakit seperti diagnosa penyakit sistem keluaran cacar air meliputi nilai MB, MD dan nilai CF (Certainty Factor) yang diperoleh dengan perhitungan menggunakan metode faktor Certainty, penyebabnya. dan solusi.

1. Pendahuluan


1.1 Latar Belakang Masalah

Penyakit cacar air merupakan penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi. Di Indonesia tidak banyak data yang mencatat kasus cacar air secara nasional. Data yang tercatat merupakan data epidemic cacar air pada daerah tertentu saja. Sesuai data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, jumlah penderita cacar air pada bulan september 2011 adalah 986 orang. Jumlah ini terhitung terdapat banyak sekali kenaikan penderita cacar air, karena data penderita penyakit ini pada bulan agustus 2011 hanya terdapat 171 orang. Berdasarkan data Australia menunjukkan, 83% dari anak-anak yang terinfeksi oleh cacar air berumur 10 – 14 tahun. Di Australia ada sekitar 240.000 kasus,

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana merancang sistem pakar untuk diagnosa penyakit cacar air pada anak dengan metode certainty factor?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.    Menghasilkan suatu sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit cacar air pada anak berdasarkan gejala-gejala yang diberikan oleh user dan memberikan definisi mengenai jenis penyakit, penyebab, penularan, pencegahan, dan solusi yang sebaiknya dilakukan.
2.    Mendokumentasikan atau menyimpan informasi dari pengetahuan seorang pakar untuk direpresentasikan.
3.    Menerapkan ilmu berbasis informatika dalam bidang sistem informasi untuk membantu diagnosa penyakit cacar air pada anak.

1.4 Metode Penelitian

Dalam pembuatan skripsi ini, meliputi langkah- langkah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data yang diperlukan
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data sebagai sumber pelengkap untuk mendukung keakuratan informasi yang terkandung. Data-data tersebut diambil menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain :
a.        Study Literatur
Metode yang dilakukan dengan menggunakan buku-buku perpustakaan yang meliputi literatur, catatan dan bacaan lain yang menunjang penulisan serta pengembangan program Visual Basic 6.0 dan SQL Server 2000.
b.       Browsing
Pengamatan keberbagai web site di internet yang menyediakan informasi yang relevan dengan permasalahan dalam pembuatan sistem ini.
c.         Interview
Yaitu teknik memperoleh data dengan tanya jawab atau wawancara secara langsung dengan pakar (dokter spesialis anak) yaitu DR.Dr.Fx.Wikan Indarto,Sp.A.

2. Analisa data yang telah dikumpulkan
Membuat analisa terhadap data yang sudah diperoleh dari hasil interview yaitu membuat spesifikasi yang terstruktur .

3. Perancangan dan Desain Sistem
Memahami rancangan sistem pakar sesuai data yang ada dan mengimplementasikan model yang diinginkan oleh pengguna.

4. Pembuatan Aplikasi
Tahap ini merupakan tahap pembuatan dan pengembangan aplikasi sesuai dengan desain sistem yang ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sistem Pakar untuk mendiagnosa penyakit cacar air pada anak dengan metode certainty factor dibangun dengan Visual Basic 6.0 dan SQL Server 2000.

5. Uji Coba dan Evaluasi
Menguji coba seluruh spesifikasi terstruktur dan sistem secara keseluruhan. Proses uji coba ini diperlukan untuk memastikan bahwa sistem yang telah dibuat sudah benar, sesuai dengan karakteristik yang ditetapkan dan tidak ada kesalahan.

6. Penyusunan Skripsi
Pembuatan skripsi ini berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan dari hasil program.

2. Landasan Teori

2.1 Pengertian Sistem Pakar

Menurut Kusrini (2006:11) Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut. Sistem pakar bekerja berdasarkan pengetahuan yang dimasukkan oleh seorang atau beberapa orang pakar dalam rangka mengumpulkan informasi hingga sistem pakar dapat menemukan jawabannya.

2.2 Arsitektur Sistem Pakar


Arsitektur dasar dari Sistem Pakar dapat dilihat pada Gambar 2.1 (Giarrantono dan Riley, 1994).




Gambar 2.1 Arsitektur Sistem Pakar


 

 

 

 

2.3 Metode Certainty Factor

 

Faktor kepastian (certainty factor) diperkenalkan oleh Shortliffe Buchana dalam pembuatan MYCIN pada tahun 1975 untuk mengakomodasi ketidakpastian pemikiran (inexact reasoning) seorang pakar. Teori pengembangan MYCIN mencatat bahwa dokter sering kali menganalisa informasi yang ada dengan ungkapan seperti misalnya: mungkin, kemungkinan besar, hampir pasti. Untuk mengakomodasi hal ini tim MYCIN menggunakan certainty factor (CF) guna menggambarkan tingkat keyakinan pakar terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.

Definisi menurut David McAllister Certainty Factor adalah suatu metode untuk membuktikan apakah suatu fakta itu pasti ataukah tidak pasti yang berbentuk metric yang biasanya digunakan dalam sistem pakar. Metode ini sangat cocok untuk sistem pakar yang mendiagnosa sesuatu yang belum pasti. Certainty factor (CF) menunjukan ukuran kepastian terhadap suatu fakta atau aturan.
Certainty factor didefinisikan sebagai berikut: CF[h,e] = MB[h,e] – MD[h,e]
dengan:
CF[h,e]              = faktor kepastian
MB[h,e]             = ukuran kepercayaan terhadap hipotesis h, jika diberikan evidence e (antara 0 sampai 1).
MD[h,e]            = ukuran ketidakpercayaan terhadap evidence h, jika diberikan evidence e (antara 0 sampai 1).

2.4 Penyakit Cacar Air

 

Varisela (Cacar air, “Chicken Pox”) ialah penyakit akut, menular yang ditandaioleh vesikel di kulit dan selaput lender yang disebabkan olehvirus varicella.

2.5.1 Etiologi (Penyebab Penyakit)

 

Varicella disebabkan oleh Herpes virus varicella atau disebut juga virus varicella-zoaster (virus V – Z ). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah ada kontak dengan virus V – Z akan terjadi varisela; kemudian setelah penderita varisela tersebut sembuh, mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan kemudian virus V- Z diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster. Virus V – Z dapat ditemukan dalam vesikeldan dalam darah penderita varisela; dapat dilihat dengan mikroskop electron dan dapat diisolasi dengan menggunakan biakan yang terdiri dari fibroblast paru embrio manusia.

2.5.2 Epidemologi (Jalannya Penyakit)


Sangat mudah menular, yaitu melalui percikan ludah dan kontak. Dapat mengenai semua golongan umur, termasuk neonates (vaisela congenital), tetapi tersering pada masa anak. Penderita dapat menularkan penyakit selama 24 jam sebelum kelainan kulit (erupsi) timbul sampai 6 atau 7 hari kemudian. Biasanya seumur hidup, varisela hanya diderita satu kali. Residif dapat terjadi pada penderita peyakit keganasan dan pada anak dengan pencangkokan ginjal yang sedang diberi pengobatan imunosupresif.

2.5.3 Patologi (Kejadian yang Tidak Normal)


Terjadi vesikel di epidermis dengan degenerasi dan badan inklusi di dalam nucleus. Pula terdapat infiltrasi sel bulat di korium dan dilatasi kapiler.
Gejala klinis :
Masa inkubasi 11 – 12 hari, biasanya 13 – 17 hari. Penyakit ini dibagi dalam 2 stadium, yaitu :

1.         Stadium Prodromal
24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala panas, lemah (malaise), anoreksia. Kadang
– kadang terdapat kelainan scarlatinaform atau morbiliform.
2.         Stadium Erupsi
Dimulai dengan terjadinya papula merah, kecil, yang berubah menjadi vesikel yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar eritematous. Permukaan vesikel tidak memperlihatkan cekungan di tengah (unumbilicated). Isi vesikel berubah menjadi keruh dalam waktu24 jam. Biasanya vesikel menjadi kering sebelum isinya menjadi keruh.dalam 3 – 4 hari erupsi tersebar; mula-mula di dada lalu ke muka, bahu dan anggota gerak. Erupsi ini disertai perasaan gatal.

Pada suatu saat terdapat bermacam-macam stadium erupsi; ini merupakan tanda khas penyakit varisela. Vesikel tidak hanya terdapat di kulit, melainkan juga di selaput lendir mulut. Bila terdapat infeksi sekunder, maka akan terjadi limfadenopatia umum.

3. Analisis dan Perancangan

 

3.1 Analisis Sistem


3.1.1 Deskripsi Sistem

Sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit cacar air pada anak ini merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosa penyakit cacar air pada anak yang diwujudkan dengan adanya interaksi Antara pengguna dengan system. Dalam proses ini, system akan memberikan daftar gejala yang sudah tersimpan dalam system berupa basis pengetahuan. Jawaban akan gejala yang diberikan pengguna akan diproses untuk menghasilkan kesimpulan tentang penyakit yang menyerang si penderita dengan didukung oleh nilai kepastian. Sistem kemudian akan memberikan penyebab, penularan dan solusi yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan penyakit dan menangani penyakit yang diderita serta mencegah agar tidak terserang penyakit tersebut.

 

3.2 Analisis Kebutuhan Sistem


3.2.1 Analisis Kebutuhan Fungsional

Kebutuhan fungsional adalah jenis kebutuhan yang berisi proses-proses apa saja yang nantinya dilakukan oleh sistem dan berisi informasi-informasi apa saja yang harus ada dan dihasilkan oleh sistem, meliputi :

1.     Sistem harus dapat melakukan log-in, log-out dan exit
a.     Admin dapat melakukan login, menambah dan menghapus pakar.
b.     Admin dan Pakar dapat melakukan log-out dan exit.
c.     Pengguna (pasien) dapat melakukan exit.
2.     Sistem harus dapat membatasi hak akses pengguna.
a.     Hak akses pengguna terdapat tiga, yakni admin, pakar dan pengguna (pasien).
b.     Admin mendapatkan hak akses untuk menambahkan, mengubah dan menghapus data pakar.
c.     Pakar mendapatkan hak akses untuk menambahkan, mengubah dan menghapus data penyakit, data gejala, data penyebab, data penularan, data pencegahan, data solusi, aturan penyakit, aturan penyebab, aturan pencegahan dan aturan solusi.
3.     Sistem dapat melakukan konsultasi dan diagnosa penyakit.
a.     Pengguna (pasien) dapat menggunakan menu konsultasi, menginputkan gejala yang diderita, tanpa harus melakukan login.
b.     Pengguna (pasien) dapat mengetahui penyakit yang diderita beserta penyebab, cara penularan, pencegahan dan solusi atas penyakit yang terdiagnosa.
4.     Sistem harus dapat melakukan entri data-data seperti data penyakit, data gejala, data penyebab, data pencegahan, data penularan, data solusi dan data daftar semua aturan
a.     Pakar dapat menambahkan, mengubah dan menghapus data penyakit beserta dengan kode penyakit, penyakit dan penjelasan.
b.     Pakar dapat menambahkan, mengubah dan menghapus data gejala beserta dengan kode gejala, gejala, nilai MB dan MD..
5.     Sistem dapat menghitung nilai kepastian (MB) dan nilai tidak pasti (MD) suatu gejala terhadap penyakit yang diderita oleh Pengguna (pasien).
6.     Sistem dapat melakukan laporan pakar secara otomatis.


3.2.3 Analisis Kebutuhan Non Fungsional


3.2.2.1 Kebutuhan Perangkat Keras

Tabel 3.1 Kebutuhan Perangkat Keras

Perangkat Keras
Intel(R) Pentium (R) CPU8960
Monitor, Keyboard, Mouse
RAM 2048 MB
Harddisk 250 GB


  
3.2.2.1.1 KebutuhanPerangkat Lunak
            
             Tabel 3.2 Kebutuhan Perangkat Lunak
Perangkat Lunak
Keterangan
Sistem operasi
Windows 7 (seven) 32 bit
Bahasa Pemrograman
Visual Basic 6.0
Database Server
Microsoft SQL Server 2000
Data Modelling
Microsoft Office Visio 2010

 






3.3 Perancangan Sistem


Di dalam perancangan system ini dibuat rancangan flowchart system, perancangan DFD, perancangan database, perancangan table dan perancangan antar muka.


3.3.1 Flowchart Sistem




                                                      Gambar 3.1 Flowchart Sistem



3.3.1 Diagram Alir






                                       Gambar 3.2 Diagram Alir Data Level 0



3.4 Perancangan Database


Database merupakan bagian dari implementasi system pakar yang digunakan untuk menyimpan semua data, baik basis pengetahuan maupun basis aturan



                        Gambar 3.3 Entity Relation Diagram

4.     Implementasi dan Pembahasan

 

4.1    Implementasi


                                    Gambar 4.1 Tampilan Menu Utama



                             Gambar 4.2 Tampilan Menu Konsultasi



                        Gambar 4.3 Tampilan Menu Hasil Diagnosa


4.2 Pembahasan


Tabel 4.2 Perbandingan Hasil Diagnosa Dokter dan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Cacar Air Pada Anak


NO
Kasus
Hasil Diagnosa
Pakar
Sistem
1
Gejala :
1.     Demam
2.     Sakit Kepala
-     Cacar Air
Stadium
-     Cacar Air Stadium
Prodroma

 







    


      



















yang   interaktif  dengan interface yang lebih menarik dari perbandingan hasil analisa sistem pakar dengan hasil diagnosa dokter diatas dapat kita hitung persentasenya, dimana jumlah kasus yang bernilai benar dibagi dengan jumlah total kasus keseluruhan. Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rumus persentasi perbandingan hasil diagnosa
Perbandingan Hasil Diagnosa(%)
= ∑Kasus bernilai benar x100%
∑Kasus
Diketahui jumlah kasus yang bernilai benar 14 dari 20 kasus, maka perhitungan persentasi perbandingan hasil diagnosa sebagai berikut:
Perbandingan Hasil Diagnosa(%) = 14 x100%
20
Perbandingan Hasil Diagnosa(%) = 70%
Perbandingan hasil diagnosa menghasilkan 70% sistem ini mendekati hasil diagnosa dokter. Hal ini bukan disebabkan karena diagnosa yang salah pada sistem, tetapi karena sistem ini hanya mendiagnosa penyakit cacar air pada anak.

5. Kesimpulan


5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengembangan dan pembahasan maka dapat disimpulkan :
1.     Dari penelitian dihasilkan sebuah software yang mampu mendiagnosa jenis penyakit Cacar Air Pada Anak berdasarkan gejala yang dimasukkan dan dapat memberikan informasi tentang penyakit yang terdiagnosa.
2.     Perangkat lunak yang dihasilkan mampu mendiagnosa jenis penyakit Cacar Air Pada Anak dengan perhitungan nilai kepastian menggunakan metode Certainty Factor, dengan menggunakan bahasa pemograman Visual Basic 6.0 yang dapat beraksi layaknya seorang pakar. Sistem ini dapat digunakan sebagai media konsultasi.

5.2 Saran


Saran-saran yang dapat penulis sampaikan berkaitan dengan diagnosa penyakit cacar air pada anak, antara lain:
1.     Sistem ini menghasilkan hasil diagnosa dengan presentase sebesar 70%. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya dapat meningkatkan presentasenya.
2.     Program aplikasi ini masih dapat dikembangkan lagi bagi yang tertarik dan berminat, seperti pengembangan sistem menjadi berbasis web atau mobile maupun pengembangan kearah multimedia

Daftar Pustaka

[1]     Al Fatta, Hanif. 2007. Analisis & Perancangan Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
[2]     Arief, M. Rudyanto. 2005. Pemrograman Basis Data Menggunakan Trasact-SQL dengan Mecrosoft SQL Server 2000. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
[3]     Arhami, Muhammad. 2005. Konsep Dasar Sistem Pakar. Yogykarta: Andi Offset.
[4]     Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Ilmu Kedokteran Anak. Edisi Kelima. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
[5]     Jogiyanto. 2005. Analisis & Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset Offset.
[6]     Kusrini. 2006. Sistem Pakar Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
[7]     Kusrini. 2007. Strategi Perancangan dan Pengelolaan Basis Data. Yogyakarta: Penerbit ANDI OFFSET
[8]     Kusrini. 2008. Aplikasi Sistem Pakar. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
[9]     Palupi, Dwi Retno. 2012. Sistem Pakar Pengobatan Alergi Dengan Thibunnabawi. Jurusan Sistem Informasi STMIK AMIKOM. Yogyakarta.
[10]  Putra Tjumoko, Yohan Kurnia. 2011. Aplikasi Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Menular Pada Balita dengan Metode Forward Chaining.
Kearsipan STIKOM SURABAYA
[11]  Sunyoto, Andi. 2007. Pemrograman Database dengan Visual Basic dan Microsoft SQL. Yogyakarta: Penerbit ANDI OFFSET.
[12]  Wijayanti, Poni. 2012. Sistem Pakar Mendiagnosa Jenis Penyakit Stroke Menggunakan Metode Certainty Factor. Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.




























            



Jelaskan apa itu CCNA?

CCNA adalah singkatan dari Cisco Certification Network Associate. Sebuah program sertifikasi di industri jaringan komputer yang dikeluarkan ...